Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘kandang ke.bow’ Category

Hari kemarin, aku memikirkan apa yang akan terjadi hari ini.
Hari ini, aku memikirkan apa yang akan terjadi esok.

“Tuhan menegur…”
“Hidup bukan tentang menyesali keterbatasan ruang dan waktu, Hidup seharusnya mengoptimalkan dua hal tersebut”.
“Terlalu sibuk mempertanyakan tentang kesulitan hidup, berhentilah, tanyakanlah ‘apa yang membuatnya jadi sulit’, waktumu tak banyak”
“Satu hal yang pasti adalah ketidakpastian, dan tak ada yang perlu diragukan, tentukan saja sebuah pilihan”
“A good man, never find (a) pain, he just feel some obstacles”
“Keberhasilan adalah hal yang terparameterkan oleh subjektifitas manusia, tapi sebuah Kepuasan sangatlah relatif”
“Ketika sebuah pertanyaan tak bisa dijawab oleh sesuatu yang terlihat nyata, maka mulailah memikirkan hal-hal membingungkan – eksplorasi pemikiran”
“Tuhan mendengarkan, Tuhan menjawab, dengan begitu kita memahami arti sebuah doa.”

Aku lihat ke luar, aku bermimpi.
Aku lihat ke dalam, saatnya aku bangun mimpi itu.
Aku menyapamu, Tuhan.

Iklan

Read Full Post »

Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa malam ini akan jadi luar biasa seperti ini.
Aku terduduk bersama lima orang sahabatku.
Aku pandangi wajah mereka satu-satu.
Malam ini mereka buat segalanya jadi spesial.
Aku bisa lihat kelelahan akan hari ini dan semangat untuk hari esok di wajah mereka.
Mereka buat aku bingung, sedih, senang, dan terharu malam ini.
Tak banyak yang kita bicarakan.

Aku tahu.
Waktu kita memang tak banyak malam itu.
Aku tahu.
Malam ini tak mungkin bagi kita berbicara banyak hal.
dan Aku tahu.
Pertemuan ini sangat berarti bagiku, bagi kalian juga.

Sedihku,
Tuhan pernah berkata, manusia harus berbuat baik kepada sesama dan tak boleh berjalan dengan kesombongan di muka bumi-Nya. Sudahkah aku baik pada kalian?
Senangku,
Kalian selalu berbagi cerita, berbagi canda tawa, berbagi duka lara. Aku tahu, setiap kejadian itu adalah sejarah bagiku dan kalian. Sekalipun esok atau lusa semua hal berbeda terjadi pada kita semua.

Terima kasih.
Dua kata yang menurutku memiliki makna yang sangat “romantis” dan sakral.
Cukup mudah mengucapkannya, namun banyak orang enggan untuk mengucapkan.
Aku sangat menghargai dua kata tersebut.
Terima kasih.
Untuk kalian yang telah membuat malam ini jadi bermakna.

Terima kasih Amri Ahmad
Terima kasih Indah Mutiara Kami
Terima kasih Imam Kurnia P
Terima kasih Dixie Thamrin
Terima kasih Gandrie Ramadhan
Terima kasih Kun Riana Aplika
Terima kasih Agnindhira N
Terima kasih semua,

a big surprise for my twenty.
“sebuah kamera yang akan selalu saya ingat, mungkin hingga saya tak lagi bisa mengingat”
terima kasih teman.

Read Full Post »

Langkah ke Duapuluh.

Tangis dan teriakan itu memecah keheningan dunia, walau hanya sesaat.
Aku menuju Langkah Pertama ku. Sayup-sayup suara adzan terdengar.
Di Langkah kedua dan ketiga, aku terbata-bata, terjatuh lalu bangkit, aku berusaha meraih tangan Ibu.

Aku di Langkah keempat dan kelima, semua mulai terlihat begitu menyenangkan. Yang ada hanya bermain dan bertengkar.
Aku tersentak, begitu banyak kertas di hadapanku. Oh, aku sudah di langkah keenam, tujuh, dan delapan.
Langkah kesembilan dan sepuluh, dunia terasa begitu lambat berputar.
Pukulan rotan itu harus kuterima di langkah kesebelas. Dan sibungsu telah tiada.

Hei, surat apa ini? wanita? tahu apa aku di Langkah keduabelas ini.
Aku menurut saja di Langkah ketigabelas hingga limabelas, Ibu melarang. Toh, warna-warni mulai terlihat disini.
Aku ingin tahu ada apa disana, Langkah keenambelas memberiku angin segar.
Wanita, ia kembali, walau bukan ia. apa sebenarnya yang ada dalam dirinya? hingga banyak Adam mengagumimu, begitupun aku. Ini Langkah ketujuhbelas.

Bangun..! Apa kau hanya akan duduk termangu diujung sana? Kehidupan ini tak akan menunggumu kawan, kau sudah di Langkah delapan belas.
Idealisme, hanya onggokan sampah atau justru amunisi yang memenuhi ranselku di Langkah kesembilanbelas.
Aku masih melihat mentari, semalaman aku berjalan melihat banyak kerumunan. Terlalu riuh. Badai dan panas terlalu sering datang. Hei..! Kau mau apa?

Aku letih.. Tapi ini baru sepertiga perjalananku. Entahlah. Aku belum terlalu siap, langkahku terlalu goyah. Hei..! Roda kehidupan sekali lagi tak akan menunggumu. Apa kau belum sadar juga?
Aku terbangun di Langkah ke Duapuluh. Aku harus siap…! Aku yang memilih…! Aku yang menentukan…!

Read Full Post »


tiba-tiba ada belasan massage di inbox deviantArt saya.
wah, ada dua balasan massage berbahasa Inggris.
ternyata, memang seorang fotografer kebangsaan Jerman yang me-reply massage saya.
sebelumnya, saya hanya iseng menulis di sebuah forum di web deviantArt. then, si orang Jerman ternyata memberi balasan.
dan kita pun bercerita tentang banyak hal mengenai fotografi. ternyata kita satu agama: CANON unity. 🙂
Ia dengan Canon 40D nya dan saya dengan Canon 1000D nya.
good job.!

Read Full Post »

Bisa dibilang ini adalah hari yang tidak produktif bagiku. Banyak slot waktu yang rasanya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal berguna. Tapi entah mengapa, hari ini semuanya serasa serba tidak jelas. Bukannya berniat untuk menyalahkan diri sendiri, tapi tampaknya memang hari ini aku tak bisa mengontrol alur hidupku sendiri.

Memulai pagi ini dengan badan yang cukup lemas, bukan karena kecapaian, tapi lebih karena dinginnya suhu udara di kota bandung. Aku coba bangkit dari balik selimutku dan mencari posisi duduk yang cukup nyaman dan bersiap memulai kehidupan pagi itu. Tapi anehnya, pikiranku melayang entah kemana hingga bingung akan berbuat apa hari itu. Agenda yang aku jadwalkan hanyalah mengikuti rapat di unit. Hingga akhirnya temanku datang ke kosan dan kita pun berbincang sekenanya. (lebih…)

Read Full Post »

Pagi ini aku bangun lebih awal walaupun udara dingin menyelimuti kota bandung. Masih terasa berat badan ini untuk digerakan sampai akhirnya aku melihat ada beberapa pesan baru di inbox hp ku. Gosh. Aku lupa untuk mengerjakan tugas kuliah yang harus dikumpul pagi ini. Padahal dari tadi malam sudah aku ingat-ingat betul untuk mengerjakannya. Dan aku pun sudah sempat untuk meminta copyannya dari teman. (dasar pemalas). Tapi biarlah, aku pun segera bersiap untuk pergi ke kampus dan mempersiapkan “pertempuran” terakhirku diperkuliahan semester ini: UAS STATIKA. (lebih…)

Read Full Post »

Masih terasa berat kepala ini ketika aku terbangun tepat pukul 6 pagi di kosan teman. Bagaimana tidak, aku baru bisa tertidur pukul 2 pagi karena begadang tanpa sebab. Singkat kata, aku ajak teman-temanku untuk sarapan di simpang dago, tempat favorit mencari sarapan. Sudah bisa ditebak, langkah kami akan tertuju pada satu gerobak bertuliskan ” lontong da pero” (bener g y???). Yah, disanalah aku dan teman-teman yang memang berasal dari minang sering membeli sarapan.

Agh, terlalu lama, bukan itu yang ingin aku bahas.
Aku lihat jam sudah menunjukan pukul 9 pagi, teringat aku akan janji bertemu teman di kampus. Sial, aku masih belum menyelesaikan tugas yang diamanahkan temanku itu padaku. Sesampai di kosan aku coba untuk mengerjakannya tugas tersebut walau terkesan asal jadi. Sudah jam 11, namun tugas tersebut masih separuh jadi. Aku kabari teman tersebut bahwa aku akan datang terlambat. Pukul 12 siang (hitungan pun dimulai), aku tiba di kampus, tepatnya di sekre UKM tepat aku berkumpul dan belajar dengan teman-teman seperantauan. Ternyata temanku sudah berada di sana bersama beberapa orang lainnya. Temanku adalah salah seorang kadiv dalam sebuah acara yang akan diselenggarakan oleh unit kami, bulan ini. singkat cerita, kami berbincang-bincang cukup lama untuk membahas persiapan acara tersebut. Hingga tak terasa sudah hampir pukul 2. Aku lupa kalau belum sholat dzuhur. Setelah bertemu dengan temanku tersebut, aku ambil air wudhu untuk menunaikan sholat. (lebih…)

Read Full Post »